linfo.id, JAKARTA – Keluarga merupakan tempat pertama lahirnya karakter, kepemimpinan, dan masa depan sebuah bangsa. Karena itu, kehadiran orang tua, terutama ayah, tidak cukup hanya dimaknai sebatas berada di rumah, tetapi juga harus hadir dalam hati, pikiran, dan tumbuh kembang anak-anaknya.
Pesan itu disampaikan Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara saat memimpin Apel Pegawai Kementerian Transmigrasi yang bertepatan dengan peringatan Hari Keluarga Nasional, Senin (29/6).
Menurut Menteri Iftitah, bonus demografi hanya akan menjadi berkah apabila setiap keluarga mampu melahirkan generasi yang sehat, berkarakter, dan memiliki daya saing. Tanpa fondasi keluarga yang kuat, pembangunan fisik sebesar apa pun tidak akan menghasilkan kemajuan yang berkelanjutan.
“Pesan dari Menteri Kependudukan adalah keluarga merupakan hulu pembangunan nasional. Kalau hulunya sudah rusak, akan sulit memperbaiki bagian hilirnya. Karena itu, kehadiran ayah sangat penting untuk mendidik anak-anak, baik secara mental maupun spiritual,” kata Menteri Iftitah.
Ia menegaskan bahwa kehadiran orang tua tidak cukup dimaknai secara fisik. Yang jauh lebih penting adalah membangun kedekatan emosional, komunikasi yang hangat, serta menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari.
“Hadir jangan diartikan fisik saja, tetapi hatinya tidak berkoneksi, pikirannya tidak berkoneksi,” ujarnya.
Karena itu, Menteri Iftitah mengajak seluruh pegawai Kementerian Transmigrasi, khususnya yang telah memiliki anak berusia di atas tujuh tahun, untuk menyediakan waktu berdialog dengan anak dan terus mengevaluasi pola pengasuhan di dalam keluarga.
“Anak-anak tidak hanya membutuhkan kehadiran kita, tetapi juga perhatian, keteladanan, dan waktu. Di situlah karakter dibangun dan masa depan bangsa mulai dibentuk,” katanya.
Menurut Menteri Iftitah, pesan tersebut juga sejalan dengan arah baru transformasi transmigrasi. Pembangunan kawasan tidak cukup diukur dari banyaknya jalan, irigasi, pelabuhan, maupun investasi yang masuk. Keberhasilannya pada akhirnya ditentukan oleh kualitas manusia yang hidup dan tumbuh di dalamnya.
“Kalau kita ingin kawasan transmigrasi benar-benar maju, kita tidak cukup membangun jalan, pelabuhan, irigasi, atau kawasan industri. Kita juga harus membangun keluarga yang kuat, karena manusialah yang akan menentukan berhasil atau tidaknya sebuah kawasan,” tegasnya.
Untuk mewujudkan visi tersebut, Kementerian Transmigrasi terus menjalankan revitalisasi kawasan transmigrasi sekaligus mempercepat transformasi melalui lima program prioritas, yakni Trans Tuntas, Trans Lokal, Trans Patriot, Trans Karya Nusa, dan Trans Gotong Royong. Seluruh program itu diarahkan untuk membangun kawasan ekonomi yang produktif sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Di hadapan seluruh pegawai, Menteri Iftitah juga mengajak jajaran Kementerian Transmigrasi untuk terus meningkatkan kapasitas, produktivitas, dan semangat belajar agar mampu menjawab tantangan perubahan.
“Transformasi tidak mungkin lahir dari orang-orang yang berhenti belajar. Karena itu, kita harus terus bergerak, terus bekerja, dan terus meningkatkan kapasitas diri. Semakin baik kualitas kita, semakin besar manfaat yang dapat kita berikan kepada masyarakat,” ujarnya.
Menutup arahannya, Menteri Iftitah menegaskan bahwa pembangunan manusia harus selalu menjadi inti dari setiap kebijakan pemerintah.
“Kita bisa membangun jalan, kawasan, bahkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi. Tetapi pada akhirnya, masa depan Indonesia akan ditentukan oleh kualitas keluarga yang kita bangun hari ini,” pungkas Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara.