linfo.id, JAKARTA – Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas) memperkuat upaya pelestarian warisan dokumenter melalui program “Merawat Ingatan Kolektif Bangsa”. Salah satu langkah konkretnya adalah alih wahana naskah kuno menjadi bacaan yang lebih populer dan mudah diakses masyarakat luas.
Kepala Perpustakaan Nasional RI, E. Aminudin Aziz, menegaskan bahwa nilai penting naskah kuno tidak hanya terletak pada fisik dokumennya, melainkan pada pengetahuan yang diwariskan.
“Merawat ingatan kolektif bangsa bukan semata-mata menjaga naskah agar tidak hilang atau rusak. Yang tidak kalah penting adalah memastikan pengetahuan, pengalaman, dan nilai-nilai yang diwariskan melalui naskah itu dapat terus dibaca, dipahami, dan dimanfaatkan oleh generasi hari ini dan generasi yang akan datang. Warisan dokumenter harus kita hadirkan kembali sebagai sumber pengetahuan yang hidup,” ujarnya.
Sejak 2024, Perpusnas telah menerbitkan 125 komik dan buku anak berbasis naskah kuno. Pada 2026, Perpusnas bekerja sama dengan DKV ITB menerbitkan 50 buku anak dan komik tambahan untuk didistribusikan ke perpustakaan desa, taman baca, hingga Sekolah Rakyat, serta dapat diakses gratis lewat aplikasi iPusnas.
Selain itu, Perpusnas merilis 25 komik seri Babad Diponegoro berbahasa Inggris memanfaatkan dana hadiah Jikji/Memory of the World Prize UNESCO.
“Kita ingin naskah kuno tidak hanya dikenal oleh peneliti atau mereka yang memiliki kemampuan membaca aksara tertentu. Melalui alih aksara, alih bahasa, saduran, komik, dan buku anak, kandungan naskah dapat menjangkau pembaca yang jauh lebih luas. Dengan cara itulah pelestarian bertemu dengan literasi,” terang Aminudin.
Perpusnas juga memperkuat Program Ingatan Kolektif Nasional (IKON) dengan menetapkan 11 naskah kuno baru pada 2026. Perpusnas turut mengusulkan Kidung Bhuwana Winasa dan Bo Sangaji Kai untuk Memory of the World (MoW) Asia Pasifik 2026, serta Kakawin Sutasoma dan karya Syekh Yusuf al-Makassari untuk MoW Internasional 2027.
Sebagai bentuk apresiasi, Perpusnas akan menggelar penganugerahan IKON 2026 serta penghargaan Nugra Jasa Dharma Pustaloka Kategori Pelestarian Naskah Kuno pada 24 September 2026.
“Ingatan kolektif memberi kita kesempatan untuk memahami dari mana kita berasal, bagaimana masyarakat kita berkembang, dan nilai apa yang perlu kita bawa ke masa depan. Karena itu, menjaga naskah berarti menjaga pengetahuan; membuka akses terhadapnya berarti memastikan pengetahuan tersebut terus tumbuh dan memberi manfaat bagi masyarakat,” pungkas Aminudin.

