BRIN Kembangkan Inovasi Reaktor Modular Penangkap CO₂ untuk Industri

Perekayasa Ahli Madya PRTKE BRIN sekaligus ketua tim riset, Asep Rachmat 

linfo.id, JAKARTA – Perubahan Upaya menekan emisi karbon dari sektor industri dan pembangkit energi berbasis fosil menjadi perhatian utama dalam menghadapi perubahan iklim global.

Menjawab tantangan tersebut, tim periset dari Pusat Riset Teknologi Konversi Energi (PRTKE) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), tengah mengembangkan inovasi reaktor penangkap karbon dioksida (CO₂) berbasis cairan dengan desain modular yang fleksibel dan aplikatif untuk kebutuhan industri di Indonesia.

Bacaan Lainnya

Pengembangan teknologi ini menjadi penting mengingat riset terkait sistem penangkapan, pemanfaatan, dan penyimpanan karbon atau Carbon Capture, Utilization and Storage (CCUS) yang dirancang khusus untuk karakteristik gas buang industri domestik masih terbatas. Kondisi tersebut selama ini menyebabkan ketergantungan terhadap teknologi impor.

Perekayasa Ahli Madya PRTKE BRIN sekaligus ketua tim riset, Asep Rachmat  menegaskan, penguasaan teknologi dalam negeri merupakan langkah strategis untuk mendukung kemandirian nasional. Sekaligus berkontribusi pada pencapaian target Net Zero Emissions (NZE) 2060 serta komitmen Indonesia dalam Paris Agreement.

“Inovasi yang dikembangkan mengusung konsep desain modular, yang memungkinkan unit-unit reaktor dibangun secara terpisah. Kemudian dirangkai sesuai kebutuhan kapasitas maupun keterbatasan lahan di fasilitas industri,” ungkapnya saat diwawancara tim Humas BRIN, pada Senin (6/04).

Pendekatan ini menawarkan fleksibilitas tinggi dibandingkan sistem konvensional yang cenderung kaku, sehingga dapat diintegrasikan langsung dengan instalasi yang telah beroperasi tanpa memerlukan perubahan besar.

“Desain ini juga membuka peluang pengembangan sistem hibrida yang mampu mengombinasikan berbagai mekanisme penyerapan CO₂ dalam satu kesatuan proses yang terintegrasi. Selain itu juga mendorong penggunaan cairan penyerap alternatif yang lebih ramah lingkungan,” paparnya.

Menurutnya, secara prinsip kerja reaktor ini berfungsi sebagai penyaring canggih yang memanfaatkan interaksi antara gas dan cairan. Gas buang industri yang mengandung CO₂ dialirkan dari bagian bawah reaktor.

“Kemudian bergerak ke atas dan bertemu dengan cairan penyerap yang dialirkan dari bagian atas. Pada titik pertemuan tersebut terjadi proses penyerapan, di mana CO₂ “ditangkap” oleh cairan sehingga gas yang dilepaskan ke atmosfer memiliki kandungan karbon yang jauh lebih rendah,” urainya.

Riset ini, lanjutnya, merupakan bagian dari program Energi Berkelanjutan dengan skema pendanaan tahun jamak.

“Pada tahap awal 2025, tim memfokuskan pengembangan pada pembuatan prototipe skala laboratorium untuk unit absorber sebagai komponen utama penangkap CO₂. Ke depan, teknologi ini ditargetkan dapat diuji coba pada skala industri pada 2029,” ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, BRIN menjalin kolaborasi dengan PT Eksperta Adi Manusa dan Universitas Indonesia. Melibatkan tim peneliti lintas keahlian yang terdiri dari Donny Triana, Arief Surachman, Mahi Ghiyast Arroqi, Tata Sutardi, Rendi Januardi, Esti Mega Maulidayanti, Desi Kurniawati, Chairunnisa, Topan Frans Saputra, Yusuf Ahda, Muhammad Penta Helios, Ilham Arnif, dan Sri Wijayanti.

Melalui pengembangan teknologi reaktor modular penangkap CO₂ ini, BRIN mendorong transformasi industri nasional menuju sistem produksi yang lebih bersih dan berkelanjutan.

“Inovasi ini diharapkan tidak hanya memperkuat daya saing industri dalam negeri. Kami berharap juga inovasi ini dapat memberikan kontribusi nyata menjaga kelestarian lingkungan bagi generasi mendatang,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *