linfo.id, JAKARTA — Membentuk karakter anak yang mandiri dan bertanggung jawab di masa depan sangat ditentukan oleh bagaimana orang tua membangun hubungan sejak usia dini.
Hal ini menjadi benang merah dalam acara talkshow edukatif bertajuk “MENJADI ORANG TUA YANG HADIR: Pola Asuh Positif untuk Tumbuh Kembang Anak” yang berlangsung di Bogor, Jawa Barat, pada Jumat (24/7/2026).
Dalam acara yang dihadiri oleh para praktisi pendidikan, guru, dan orang tua tersebut, dua pakar anak mengupas tuntas pentingnya penerapan pola asuh positif (positive parenting) di era modern. Keduanya adalah Tri Muhdiyati, S.Pd., M.Psi. selaku Konsultan Tumbuh Kembang dan Wulan Perawati, M.Pd. selaku Praktisi Pendidikan.
Selama ini, banyak anggapan bahwa menjadi orang tua yang baik berarti harus mendampingi anak selama 24 jam penuh. Namun, mitos ini dipatahkan oleh Tri Muhdiyati. Menurutnya, kehadiran orang tua tidak diukur dari durasi waktu, melainkan dari kualitas hubungan (bonding) secara emosional.
”Orang tua yang hadir itu bukan yang standby 24 jam tapi sibuk main handphone atau nonton drama Korea. Hadir yang sebenarnya adalah hadir secara jiwa dan emosional. Menghabiskan waktu 1 hingga 2 jam yang berkualitas setelah bekerja jauh lebih berharga daripada kehadiran fisik semata tanpa interaksi,” jelas Tri Muhdiyati.
Lebih lanjut, Tri memaparkan bahwa pola asuh positif berbeda dengan pola asuh otoriter maupun permisif karena memiliki tiga pilar utama. Pilar pertama adalah menghargai anak sebagai manusia seutuhnya yang memiliki potensi bawaan, bukan miniatur orang dewasa yang harus selalu menuruti perintah.
Selain itu, orang tua juga harus tega tetapi penuh kasih dengan tetap memberikan batasan dan konsekuensi aturan tanpa kekerasan. Pilar terakhir yang tidak kalah penting adalah konsistensi dan komunikasi yang dilakukan secara berulang, sebab aturan yang berubah-ubah hanya akan membuat anak kebingungan dalam bersikap.
Tantrum pada dasarnya terjadi karena anak belum bisa meregulasi emosinya saat menghadapi konflik, seperti saat keinginan mereka tidak dituruti atau ketika mainannya direbut oleh anak lain.
Menanggapi fenomena ini, Tri Muhdiyati memberikan solusi praktis agar guru dan orang tua tidak menyikapi ledakan emosi tersebut dengan kemarahan.
”Berikan waktu bagi anak untuk mengeluarkan emosinya agar mereka belajar mengenali apa yang sedang dirasakannya. Kesalahan umum kita adalah memberikan anak hukuma tanpa meregulasi perasaannya. Seharusnya guru atau orang tua tetap menemani dan berada di dekatnya agar anak merasa aman saat menenangkan diri dan bisa mengenali emosinya” tutur Tri.
Tri juga mengingatkan para orang tua untuk menghindari kebohongan manipulatif atau mengambinghitamkan pihak lain saat menolak keinginan anak, seperti berbohong bahwa mainan di toko tidak dijual.
Ia menyarankan agar orang tua selalu menjelaskan kondisi yang sebenarnya secara jujur dan komunikatif sesuai dengan usia anak.
Melalui komunikasi efektif antar-pasangan di rumah serta hubungan yang sehat antara sekolah dan orang tua, penerapan pola asuh positif yang konsisten diyakini dapat melahirkan generasi yang matang secara emosional dan siap menghadapi masa depan.
Di sisi lain, Wulan Perawati, M.Pd. menyoroti tantangan terbesar orang tua saat ini, yaitu paparan gawai (screen time) dan over stimulasi informasi parenting digital yang kerap memicu fenomena “cocoklogi”. Karena setiap keluarga memiliki medan juang yang berbeda, ia menegaskan bahwa pola asuh tidak bisa disamaratakan.
Untuk menghadapi tantangan tersebut, Wulan menekankan pentingnya sinergi yang selaras antara pihak sekolah dan orang tua di rumah agar aturan yang telah diajarkan tidak bertolak belakang di lingkungan domestik.
”Penyelarasan aturan sangat krusial, misalnya jika di sekolah anak diajarkan mandiri seperti memakai sepatu sendiri atau toilet training, maka di rumah orang tua harus menerapkan hal yang sama. Kita juga membutuhkan jembatan komunikasi melalui buku penghubung atau dokumentasi digital untuk menyamakan ritme pengasuhan, serta wadah parenting dari pihak sekolah sebagai support system bagi orang tua,” tukas Wulan.
Dalam workahop ini juga narasumber mengingatkan agar orang tua menjaga kesehatan mental mereka sendiri dan tidak perlu menjadi sosok yang perfeksionis dalam menuntut anak secara berlebihan, seperti memaksakan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung (calistung) tanpa melihat kesiapan anak. Karenanya, anak jauh lebih membutuhkan orang tua yang bahagia.