linfo.id, JAKARTA – Lokakarya Nasional Kakao 2025 yang digelar oleh Cocoa Sustainability Partnership (CSP) menjadi momentum penting untuk menyatukan berbagai pemangku kepentingan dalam menjawab tantangan industri kakao nasional, terutama terkait produktivitas dan keberlanjutan.
Acara yang berlangsung di Gedung Kusnoto, BRIN, Bogor, mengusung tema “Benih Kakao untuk Kesejahteraan Masyarakat”. Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan dari petani, industri, akademisi, hingga instansi pemerintah pusat dan daerah.
Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian, Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Widiastuti menyatakan, saat ini pemerintah berfokus pada langkah-langkah strategis untuk percepatan peningkatan daya saing produk perkebunan seperti, sawit, tebu, kakao, kelapa, karet, kopi, gambir, dan produk hortikultura seperti tanaman buah dan obat.
“Selain merupakan komoditas strategis negeri, kakao juga menjadi sumber penghidupan bagi jutaan petani di Indonesia.” tutur Widiastuti.
Menurut Widiastuti, penurunan produktivitas kakao di Indonesia disebabkan oleh berbagai faktor, seperti tanaman tua, kurangnya pengetahuan petani, dan rendahnya pemanfaatan varietas unggul.
Oleh karena itu, sinergi lintas sektor dan pemangku kepentingan sangat dibutuhkan.
Kakao, sebagai salah satu komoditas strategis, memiliki peran penting dalam perekonomian Indonesia. Namun dalam beberapa tahun terakhir, sektor ini menghadapi tantangan berat seperti turunnya produktivitas, tanaman tua, serangan penyakit, serta sulitnya akses terhadap benih unggul.
Sebagai bentuk respon terhadap tantangan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama CSP telah meluncurkan varietas batang bawah unggul RHS1 dan RHS2, yang telah ditetapkan oleh Kementerian Pertanian sebagai solusi dalam program replanting nasional.
“Hari ini kita berkumpul dalam semangat berbagi pengetahuan, bertukar wawasan, dan mencari jalan keluar bersama untuk membangun kembali kejayaan kakao nasional,” ujar Dr. Setiari Marwanto, S.P., M.Si, Kepala Pusat Riset Tanaman Perkebunan BRIN.
Dr. Setiari juga menekankan pentingnya momentum ini untuk mengembalikan produktivitas dan daya saing kakao Indonesia, dengan menyoroti peran BRIN dalam mendukung penyediaan bahan tanam melalui pendekatan berbasis riset dan teknologi.
“Kami selalu berkomitmen untuk mendukung pembangunan Indonesia, khususnya di sektor kakao. Melalui kolaborasi seperti ini, kita berharap dapat mendorong keberlanjutan industri dan kesejahteraan petani kakao,” jelasnya.
Ketua Dewan Umum Anggota CSP, Ismet Khaeruddin, menyoroti fakta bahwa 99% kakao di Indonesia ditanam oleh petani kecil, yang kini banyak mengalami penurunan hasil panen drastis.
“Hampir lima tahun terakhir ini produksi kakao kita terus menurun. Padahal sekitar satu dekade lalu kita pernah berada di urutan ketiga dunia. Kini, kita berada di peringkat ke-7,” ungkap Ismet.
Menurutnya, replanting menjadi solusi utama, namun hal ini bergantung pada tersedianya bahan tanam yang berkualitas, tepat waktu, dan terjangkau.
“Kalau kita bisa produksi bahan tanam berkualitas tapi tidak terjangkau oleh petani, itu sama saja tidak bermanfaat,” tegas Ismet.
Ismet menambahkan bahwa “terjangkau” bukan berarti gratis, melainkan sesuai dengan kemampuan petani kecil.
Ia juga menyebut berbagai inisiatif dari organisasi mitra seperti MARS, OFI, dan GIZ yang telah mendukung pembangunan sistem kebun sumber benih berbasis petani, dengan dukungan teknis dari BRIN dan koordinasi lintas kementerian seperti Kemenko Pangan, Kemenko Perekonomian, Bappenas, Kementerian Pertanian, dan badan lain yang terlibat.
Ismet turut merujuk pada arahan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan perlunya diskusi yang berujung pada solusi konkret.





